10 Agustus 2012

jangan marah kalo ibu ga ngebolehin ini itu.......

ternyata ibu masih nganggep ayu anak kecil..
kan kemaren ceritanya ayu mau dijahitin baju sama ibu, ayu ga tau model bajunya apaa bingung mw yang gimana buat dipake lebaran. hehee.. kita emang selalu pays great attention sama yang namanya hari kemenangan atau idul fitri yang lebih sering akrab dibilang hari lebaran.
akhirnya ayu pengennya model baju yg kaya ibu mau yaitu baju atasan sama roknya juga. trusdesign nya ada dikit tambahannya kaya ditempelin bahan gituu.. naaah waktu mau buat lengannya ibu bilang lengannya yg biasa aja yu :( . muka udah mesem dan mulut udh manyun, kenapa ga boleh model yg lain?.. eh ga taunya ibu bilang kamu ga cocok model yg itu kaya orang dewasa ajaa kamu masih kecil yuu..
oh ibuuu,, i guess it's not like you think for sure mom.  
ternyata org tua selalu menganggap anaknya masih kecil meskipun sebesar apapun anaknya sekarang tinggal kita gimana buat ngehargain orang tuanya yg kasihnya ga pernah akan ada habisnyaa..

how much i love you mom .. :*

6 April 2012

kendalikan egomu atau egomu akan mengendalikanmu

gw ayu. nama panjang gw ayu bisma putri. gw orangnya santai tapi kalo ada yg sekira ga sejalan gw bantai. kenapaaa? mau bilang sadiiiis??? trus masalah buat looo? (haha.ga ding kidding aja ya)

oke, kita awalin pembahasan ini dengan 3 huruf yakni ego. apa itu ego? nama pakde sebelah? ato nama makanan sejenis combro? nononooono.. ego itu erat kaitannya dengan rasa lebih tepatnya perasaan yang sulit dikendalikan.. yaaps sejenis egois..

mementingkan diri sendiri, ga peduli perasaan org lain, gabisa ngendaliin emosi, ga mau kalo ga ditegor duluan, paling anti sms mantan duluan, ga mau minta maaf kalo salah. ituu semua bisa dikatakan EGOIS!! and u know that? egois itu ga baik..
hidup itu yang bener bukan take and give tapi belajarlah untuk give and take.
kita berikan kepedulian maka kita akan mendapatkan kepedulian pula begitupun dgn halhal lainnya..

gw jg masih sering uncontrol apa yang ada didlm diri gw. gw nulis ini karena gw care bgt sama hal yg satu ini. gw pengen seenggaknya lebih bisa nahan ego aja dr sebelumsebelumnya.
intinya adalah learning process..
keledai aja ga mau jatuh kelubang yang sama, apalagi manusia. ya kaaan?

so, start to control ur anger .. and then u get ur happiness..

#thanks god it's FRIDAY

5 April 2012

copas dari grup sebelah, semoga mengubah paradigma kita mngenai sistem pendidikan di indonesia..


Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. KITA TIDAK DAPAT MENGUKUR PRESTASI ORANG LAIN MENURUT UKURAN KITA.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan ENCOURAGEMENT, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

SEKOLAH yang membuat kita TIDAK NYAMAN mungkin telah membuat kita MENJADI LEBIH DISIPLIN. Namun di lain pihak dia juga bisa MEMATIKAN INISIATIF dan MENGENDURKAN SEMANGAT. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti

6 Januari 2012

realistis dan idealis serta optimis

(before sleeping)
banyak hal yg must kita perbuat untuk di tahun ini.

lo ga butuh tercapainya banyak keinginaan tp seenggaknya terwujudnya sebuah impian lewat satu tindakan.
everything is possible  but something impossible if there is no ACT..

semangaaaaat,semangaaaat dan semangkaa :)

12 Desember 2011

How to grab your vision in 5 Fingers: Yourself, Your dream, Your Goals, Your Plan, Your Value

selamat night everyone..
ok, kaloo kita semua berbicara all about our wishes pastinya keinginan kita banyaak bangeet. dan kalo ditulis dlm sebuah buku mgkn bisa jadi gak muat. ya kan?

tapii kita harus mulai segala sesuatunya itu dari hal-hal kecil. kita mesti fokus ama main goal alias tujuan utama kita semua.
karena ada pepatah yg bilang " fokus pada satu keinginan demi mencapai banyak keinginan". you know what i mean lah yaa..

yourself
your dreams
your goals
your plan
your value..
how to grab ur mission??
and the key is BELIEVE with urself because u can get everything if you pay serious attention to ur dreams..

and then GOODNIGHT..

24 November 2011

about soccer in indonesia


SEPAK BOLA
Sulit dipungkiri bahwasanya sepak bola adalah olahraga paling populer akhir-akhir ini. Berkaitan dengan sepak bola, yang terlintas dipikiran kita adalah pemainnya yg keren-keren terlebih banyak sekali pemain bola yang emang dianugerahi wajah yang kece.
Ga tau kenapa, jadi tertarik sekali buat nulis tentang bola. Terlebih dunia persepakbolaan yang ada di indonesia. Beberapa waktu lalu kita sempat diributkan oleh hal-hal buruk yang menimpa PSSI, bahkan ada anggapan bahwa PSSI juga rentan sekali dengan kasus korupsi. but, terlepas dari itu semuaa,  saya yakin masyarakat indonesia sudah cerdas menilai mana yang benar dan mana yang tidak.  Memang benar bahwasanya dalam dunia politik setiap orang memiliki anggapan yang berbeda bahkan clash yang berkepanjangan sesama politisi tetapi justru  ketika dihadapkan pada sebuah olahraga sepak bola kita semuanya bisa bersatu. Buktinyaa ketika ajang seagames ke-26 digelar, saya yakin banyak yang tidak terlalu mengikuti perkembangan dunia olahraga yang ada di indonesia bahkan di asia tenggara tetapi melalui sepakbola kita dapat mengetahui perkembangan sepak bola kita melalui berbagai media. Berhubung sepak bola adalah olahraga istimewa di dunia dan olahraga yang paling merakyat. Rasa nasionalisme inilah yang pada akhirnya menyebabkan kematian pada 2 orang supporter timnas indonesia dilaga final  seagames ke -26. Akibat berdesak-desakan masuk ke GBK pada akhirnya terinjak-injak dan keadaan yang sangat ramai jugalah yang menyebabkan kedua korban tersebut sulit dievakuasi. Satu hal yang bisa kita ambil hikmah bahwa melihat langsung memang memiliki kepuasan tersendiri tetapi bukan sebuah solusi mengingat kapasitas yang dimiliki gelora bung karno yang tidak mampu menampung kehadiran seluruh warga indonesia yang sangat mencintai dunia sepak bola. Kalo saya sendiri mendukung timnas gak mesti pergi ke lokasi pertandingan tai cukup dengan mendukung lewat sebuah doa(walaupun pengen bgt nonton).
Rasa nasionalisme sudah kita punya tetapi kita sering salah menempatkannya. Kekalahan bukanlah akhir tapi justru Ini baru awal dan perjalanan masih panjang. Jadi,  keep supporting persepakbolaan indonesia karena yakin bahwa indonesia punya banyak talenta anak muda yang mampu diperhitungkan di tingkat dunia. Ga ada yg bisa disalahkan karena yakin tuhan punya rencana yang indah diluar sana. Kita harus mampu men-support dalam keadaan kalah ataupun menang.
“ jika kalian tidak mampu mendukung kami ketika kalah, jangan pernah bersorak jika kami menang – ferdinand sinaga- ”
Next time will be better. Semangaat u-23. I’m proud of you all J

at the moment of GALAU

Terdiam, terpaku, terlena dan membisu..
Tak mampu bicara, berkata bahkan mengungkapkan apapun.
aku hanya bisa tertunduk dan membisu dan menahan tangis
Mengapa hanya itu-itu saja yang bisa aku lakukan?
Bukankah aku punya kaki untuk melangkah,
Aku juga punya tangan untuk menulis
Dan bahan aku masih sanggup berpikir..

Mengapa keDIAMAN ini seakan membelenggu hasratku untuk berbuat sesuatu?
Apakah yang aku tunggu?apakah yang aku carii?
Kenapaaa?
Layaknya sebuah  patung yang  hanya bisa diam,,
tak mampu melakukan apaa..

ada tapi tak mampu melawan
Disini tapi tak tak bisa berbuat banyaak
Yaa.. di adalah
SEBUAH PATUNG YANG BERNYAWA..